Motor listrik makin sering ditemui di jalanan kota-kota besar Indonesia. Dari yang dipakai untuk commuting harian sampai yang jadi armada ojek online, kendaraan bertenaga listrik ini perlahan menjadi pemandangan biasa. Namun di balik pertumbuhannya, masih banyak calon pembeli yang ragu karena satu alasan sederhana. Kepercayaan yang keliru.
Survei Global EV Alliance tahun 2025 pernah menyoroti hal ini. Dari sekitar 26 ribu pengguna kendaraan listrik di 30 negara, 77 persen menyebut hambatan terbesar mereka bukan harga atau teknologi, melainkan mitos yang beredar di masyarakat. Supaya Anda tidak jadi bagian yang percara hal itu, berikut pembahasan satu per satu mitos motor listrik yang paling sering membuat orang ragu.
Mitos Baterai Cepat Rusak, Faktanya Bisa Tahan 5 Tahun
Ini pertanyaan yang paling sering diajukan calon pembeli. Baterai memang komponen paling mahal di motor listrik, jadi kekhawatiran soal umurnya cukup wajar.
Faktanya, baterai lithium-ion yang dipakai kebanyakan motor listrik saat ini punya umur pakai sekitar 3 sampai 5 tahun, tergantung berapa kali siklus pengisian yang dilalui. Angka ini bukan tanpa dasar. Manager E-Motor Division salah satu produsen motor listrik nasional pernah menjelaskan, baterai dengan spesifikasi 900 siklus pengisian bisa bertahan sekitar 3 tahun kalau dipakai sekali charge tiap hari. Setelah melewati batas siklus itu pun baterai tidak langsung mati, hanya kapasitasnya menurun menjadi sekitar 80 persen.
Yang sebenarnya mempercepat kerusakan baterai justru kebiasaan pemakaian. Membiarkan baterai overcharge, terlalu sering fast charging sampai suhunya panas terus menerus, atau discharge sampai benar-benar kosong. Faktor-faktor inilah yang mempercepat penurunan performa, bukan sekadar usia pemakaian.
Mitos Jarak Tempuh Pendek, Faktanya Bisa 185 Km
Banyak yang masih membayangkan motor listrik hanya sanggup menempuh 30 sampai 40 kilometer sekali pengisian, lalu langsung kehabisan daya. Anggapan ini sebenarnya lebih relevan untuk motor listrik entry level generasi awal.
Teknologi baterai berkembang cukup cepat. Saat ini ada motor listrik dengan dua slot baterai yang mampu menempuh 120 sampai 185 kilometer sekali pengisian penuh. Untuk kebutuhan harian seperti antar jemput, berbelanja, atau commuting kerja, jarak tempuh tersebut sudah lebih dari cukup.
Waktu pengisian juga bervariasi antar model. Ada yang membutuhkan sekitar 8 jam dari kosong sampai penuh dengan charger standar, ada pula yang hanya membutuhkan 4 sampai 5 jam tergantung kapasitas baterai dan dayanya. Bagi yang membutuhkan pengisian lebih cepat, opsi battery swap juga sudah tersedia di beberapa titik, cukup menukar baterai kosong dengan yang sudah terisi penuh dalam hitungan menit.
Mitos Boros Listrik Rumah, Faktanya Lebih Hemat dari Bensin
Anggapan ini muncul karena orang membayangkan pengisian daya setiap hari pasti membebani tagihan bulanan. Padahal jika dihitung, biayanya jauh lebih ringan dibanding yang banyak dikira orang.
Biaya sekali pengisian motor listrik dengan baterai sekitar 1,44 kWh berkisar Rp 2.000 sampai Rp 2.500 untuk daya rumah golongan R-1. Bandingkan dengan biaya isi bensin sekitar Rp 10.000 untuk jarak yang sama. Selisihnya cukup signifikan.
Yang perlu diperhatikan justru bukan soal boros, melainkan kapasitas daya listrik rumah. Sebagian rumah tangga di Indonesia masih menggunakan daya 700 sampai 900 VA. Jika daya sekecil itu dipakai untuk charging motor listrik bersamaan dengan penggunaan AC atau pompa air, berisiko kelebihan beban. Sebaiknya periksa terlebih dahulu kapasitas daya listrik di rumah sebelum memutuskan membeli. Jika masih di bawah 1.300 VA, mungkin diperlukan penambahan daya agar pengalaman pengisian di rumah lebih nyaman.
Mitos Motor Listrik Mahal, Faktanya Lebih Terjangkau
Kalau dilihat dari harga beli maupun biaya operasionalnya, motor listrik justru lebih terjangkau. Harga motor listrik bersubsidi di Indonesia bisa dimulai dari Rp 4 jutaan sampai Rp 9 jutaan, jauh di bawah motor bensin populer yang harganya Rp 17 sampai 18 jutaan.
Dari sisi biaya operasional pun berbeda cukup jauh. Perjalanan 50 kilometer dengan motor listrik hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 2.500, sementara motor bensin bisa mencapai Rp 10.000 untuk jarak yang sama. Perawatannya juga lebih sederhana. Motor listrik tidak membutuhkan penggantian oli, busi, atau filter udara secara rutin karena tidak ada komponen pembakaran di dalamnya. Yang perlu diperiksa umumnya hanya kampas rem dan ban.
Mitos Tidak Aman Hujan, Faktanya Sudah Bersertifikasi IP67
Ini kekhawatiran yang cukup umum. Jika motor bensin saja bisa bermasalah terkena hujan deras, banyak yang mengira motor listrik dengan sistem kelistrikannya akan lebih berisiko.
Faktanya, motor listrik yang beredar resmi di Indonesia sudah dilengkapi sertifikasi IP, singkatan dari Ingress Protection. Standar IP67 misalnya berarti baterai dan dinamo sudah tahan debu total dan mampu bertahan terendam air hingga kedalaman 1 meter selama 30 menit. Hujan deras, bahkan genangan air, umumnya bukan masalah besar selama masih dalam batas toleransi yang ditetapkan produsen.
Bagaimana Jika Terkena Banjir? Berisiko Menyetrum?
Ini pertanyaan yang sering muncul, dan jawabannya cukup melegakan. Motor listrik dengan rating IP67 dapat melewati genangan hingga sekitar 50 sentimeter, sementara IP65 aman hingga 30 sentimeter. Risiko tersetrum sendiri kecil selama tidak ada kerusakan berat pada baterai atau sistem kelistrikan, karena motor listrik modern dilengkapi ground-fault detection system, sistem yang otomatis memutus arus listrik begitu mendeteksi kebocoran.
Meski begitu, tetap ada batasannya. Jika air sampai melewati soket pengisian daya, sebaiknya dihindari. Bukan karena berbahaya, melainkan sebagai langkah pencegahan agar komponen kelistrikan tidak lembap dalam waktu lama.
Mitos Mudah Terbakar, Faktanya Risikonya Kecil
Ini topik yang cukup sensitif, dan jawabannya tidak bisa disederhanakan menjadi benar atau salah sepenuhnya.
Kasus kebakaran baterai lithium-ion memang pernah terjadi, termasuk beberapa kasus di luar negeri yang sempat menjadi perhatian publik. Namun jika ditelusuri lebih jauh, kejadian semacam ini umumnya dipicu kerusakan fisik pada baterai, bukan muncul tanpa sebab yang jelas. Seorang mekanik senior bengkel spesialis motor listrik pernah menjelaskan bahwa isu motor listrik terbakar saat ditinggal lama sebenarnya mitos lama, dan kemungkinan terjadinya sangat kecil dalam kondisi normal.
Motor listrik keluaran terbaru juga sudah dilengkapi MCB, singkatan dari miniature circuit breaker, yang fungsinya serupa dengan meteran listrik rumah, otomatis memutus arus jika ada yang tidak beres. Langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan adalah menyimpan motor di tempat teduh, tidak lembap, dan jauh dari sumber panas berlebih.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah motor listrik bisa korslet?
Kemungkinannya kecil selama motor listriknya resmi dan sudah lolos sertifikasi standar keamanan. Sistem kelistrikan modern dirancang dengan proteksi berlapis termasuk MCB dan ground-fault detection.
Apakah motor listrik membutuhkan servis rutin seperti motor bensin?
Tetap membutuhkan servis, namun jauh lebih sederhana. Tidak ada penggantian oli atau busi, hanya pemeriksaan rem, ban, dan sistem kelistrikan secara berkala.
Berapa lama umur baterai motor listrik jika dipakai setiap hari?
Rata-rata 3 sampai 5 tahun tergantung pola pemakaian dan perawatan. Menghindari overcharge dan fast charging berlebihan dapat memperpanjang umurnya.
Apakah motor listrik cocok dipakai untuk penggunaan sehari-hari?
Cocok, terutama untuk mobilitas harian seperti bekerja, antar jemput, atau berbelanja yang jaraknya masih dalam rentang jarak tempuh baterai. Untuk perjalanan lebih jauh, dapat disesuaikan dengan tipe motor dan kapasitas baterainya.
Memahami Motor Listrik Lebih Baik
Sebagian besar keraguan terhadap motor listrik ternyata berangkat dari informasi yang tidak lengkap, bukan dari kekurangan produknya sendiri. Baterai yang dirawat dengan benar bisa bertahan bertahun-tahun, biaya operasionalnya lebih ringan dibanding motor bensin, dan sistem keamanannya sudah dirancang untuk menghadapi kondisi cuaca Indonesia. Dengan memahami fakta yang sebenarnya, keputusan untuk beralih ke motor listrik bisa diambil berdasarkan pertimbangan yang tepat, bukan kekhawatiran yang keliru.